Marketing & Tips

Kenapa Produk Indonesia Masih Bicara Bahasa Inggris ke Orang Indonesia?

Ada satu pertanyaan sederhana yang sering muncul di kepala saya ketika melihat berbagai produk di Indonesia, baik digital maupun fisik. Untuk siapa produk ini dibuat?

Tim Memverr
Tim Memverr
13 Mei 20268 menit baca9 views
Kenapa Produk Indonesia Masih Bicara Bahasa Inggris ke Orang Indonesia?

Ada satu pertanyaan sederhana yang sering muncul di kepala saya ketika melihat berbagai produk di Indonesia, baik digital maupun fisik.

Untuk siapa produk ini dibuat?

Bukan pertanyaan yang sulit dijawab, seharusnya. Tapi ketika melihat cara banyak produk berkomunikasi dengan penggunanya, jawabannya jadi tidak begitu jelas.

Bahasa Inggris ada di mana-mana. Di landing page. Di poster gym. Di notifikasi aplikasi. Di tombol call to action. Di nama fitur. Dan itu bukan masalah, selama memang relevan untuk audiensnya. Tapi banyak kali, ternyata tidak relevan.

Bukan Soal Anti Bahasa Inggris

Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin memperjelas satu hal.

Artikel ini bukan tentang menolak bahasa Inggris. Bahasa Inggris itu penting. Dalam konteks yang tepat, bahasa Inggris adalah pilihan yang sangat masuk akal. Developer tools, produk global, platform yang memang menyasar segmen bilingual, komunitas internasional, semua itu valid.

Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah penggunaannya relevan dengan siapa yang kita ajak bicara?

Karena bahasa, pada dasarnya, adalah alat komunikasi. Dan alat yang baik adalah alat yang bekerja untuk penggunanya, bukan yang terlihat paling keren di rak pajangan.

Juga Bukan Soal Mengindonesiakan Semua Istilah

Di sisi lain, jawaban atas masalah ini bukan lantas mengganti semua kata berbahasa Inggris dengan padanan lokalnya secara kaku.

Kata "smartphone" sudah dipahami hampir semua orang Indonesia. Tidak perlu diganti menjadi "gawai" hanya demi terlihat konsisten berbahasa Indonesia. Kata "download", "update", "login" — semua sudah menjadi bagian dari kosakata sehari-hari pengguna digital di Indonesia.

Memaksa mengganti istilah-istilah yang sudah familiar itu justru bisa membuat komunikasi terasa aneh dan tidak natural. Tujuannya bukan kemurnian bahasa. Tujuannya adalah kemudahan pemahaman.

Jadi pertanyaannya bukan "apakah ini bahasa Inggris atau bahasa Indonesia?" Pertanyaan yang lebih tepat adalah: "apakah pengguna saya langsung mengerti ini, atau mereka harus berhenti sejenak untuk memahaminya?"

Kalau jawabannya langsung mengerti, lanjutkan. Kalau ada jeda kebingungan, di situlah perlu dievaluasi.

Ketika Bahasa Jadi Jarak

Bayangkan kamu masuk ke sebuah gym baru.

Di pintu masuk ada poster besar bertuliskan: "Unlock Your Peak Performance. Join Our Elite Membership Program."

Kamu membacanya. Kamu paham, kira-kira. Tapi ada satu detik di mana otakmu harus bekerja lebih keras dari yang seharusnya.

Sekarang bayangkan poster yang sama, tapi berbunyi: "Daftar sekarang, latihan lebih konsisten, hasil lebih nyata."

Mana yang langsung masuk?

Ini bukan tentang mana yang lebih pintar atau lebih keren. Ini tentang mana yang lebih cepat dipahami oleh orang yang berdiri di depan poster itu. Dalam dunia produk digital, momen kebingungan sekecil apapun bisa berarti satu hal: pengguna pergi sebelum sempat mencoba. Dan itu mahal.

Studi Kasus: Mahasiswa Desain yang Terlupa Satu Hal Fundamental

Ada fenomena menarik yang cukup sering terjadi di lingkungan mahasiswa Desain Komunikasi Visual.

Ketika mengerjakan tugas merancang aplikasi atau website, hampir semua teks di dalam produk ditulis dalam bahasa Inggris. Tanpa terkecuali. Mulai dari label navigasi, instruksi onboarding, sampai pesan error.

Lalu dosen bertanya satu pertanyaan sederhana: "Ini aplikasi untuk pasar Indonesia, kan? Kenapa bahasanya Inggris semua?"

Dan di sinilah yang menarik. Banyak mahasiswa kesulitan menjawab. Karena alasannya bukan karena ada pertimbangan matang soal audiens. Alasannya lebih sederhana dari itu: terasa lebih keren.

Ini bukan kesalahan yang aneh. Mahasiswa desain hidup di ekosistem yang referensinya adalah Dribbble, Behance, dan produk-produk Silicon Valley. Semua bagus, semua berbahasa Inggris, semua terlihat premium. Wajar kalau standar itu terbawa ke dalam karya mereka.

Tapi ada satu hal fundamental yang terlewat.

Tugas seorang desainer UX bukan membuat produk yang terlihat keren. Tugas utamanya adalah merancang pengalaman yang memudahkan pengguna. Dan kalau dari sisi bahasa saja sudah tidak memudahkan, bahkan menciptakan jarak, maka desain itu belum selesai. Belum benar-benar berfungsi.

Ironinya, ini adalah pelajaran yang justru paling mudah dilewatkan di bangku kuliah desain, karena referensinya hampir selalu produk luar. Padahal ketika nanti mereka merancang produk untuk pengguna Indonesia sungguhan, konteksnya sangat berbeda.

Keren itu boleh. Tapi keren yang tidak bisa dipahami oleh penggunanya adalah keren yang sia-sia.

Relevansi, Bukan Prestise

Masalah yang sering terjadi bukan karena pembuat produk tidak tahu bahasa Indonesia. Mereka tahu. Masalahnya lebih halus dari itu.

Ada anggapan tidak tertulis bahwa produk yang menggunakan bahasa Inggris terasa lebih profesional, lebih serius, lebih layak dipercaya. Dan anggapan ini tidak sepenuhnya salah dalam konteks tertentu.

Tapi ketika diterapkan secara membabi buta ke semua konteks, hasilnya justru sebaliknya. Produk terasa jauh. Terasa bukan untuk saya. Terasa seperti sedang mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Gojek adalah contoh yang menarik. Salah satu produk teknologi terbesar di Indonesia, dengan valuasi yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi coba buka aplikasinya. Bahasanya casual. Natural. Seperti ngobrol dengan teman.

"Mau ke mana nih?" bukan "Enter your destination." "Yuk, pesan sekarang" bukan "Proceed to checkout."

Mereka tidak mencoba terlihat global dengan memaksakan bahasa. Mereka justru terasa relevan karena produknya benar-benar dimengerti dan dipakai oleh jutaan orang. Dan perlu dicatat, Gojek tetap menggunakan istilah seperti "promo", "voucher", atau "cashback" tanpa perlu mengindonesiakan semuanya — karena istilah-istilah itu sudah dipahami penggunanya.

Relevansi, bukan prestise, yang membuat produk bertahan.

Ketika Bahasa Inggris Dipakai sebagai Filter

Ada argumen lain yang cukup sering muncul.

"Kami pakai bahasa Inggris supaya member yang masuk lebih teredukasi." Atau: "Ini cara kami memfilter siapa yang benar-benar serius."

Untuk konteks tertentu, ini masuk akal. Ada produk atau komunitas yang memang dirancang untuk segmen spesifik, dan bahasa menjadi bagian dari identitas itu. Komunitas profesional, platform untuk developer, atau membership eksklusif yang memang mensyaratkan kemampuan tertentu — itu sah.

Tapi untuk banyak kasus lain, terutama bisnis membership atau layanan yang menyasar pasar Indonesia secara umum, ini justru menjadi bumerang.

Kamu tidak memfilter orang yang tidak serius. Kamu memfilter orang yang sebenarnya sangat serius, tapi merasa produkmu bukan untuk mereka. Ada perbedaan besar antara membangun eksklusivitas yang bermakna dan menciptakan jarak yang tidak perlu. Yang pertama menarik orang yang tepat. Yang kedua hanya membuat produk terasa tidak ramah.

Produk Fisik Pun Tidak Luput

Ini bukan hanya soal produk digital.

Coba perhatikan poster-poster di gym sekitar kamu. Atau brosur kelas online. Atau kemasan produk lokal. Banyak yang menggunakan bahasa Inggris penuh, padahal target pembelinya jelas-jelas adalah orang Indonesia dari berbagai latar belakang.

Untuk gym misalnya, ada yang pasang banner: "Transform Your Body. Elevate Your Life." Target mereka adalah warga sekitar yang ingin hidup lebih sehat. Bukan ekspatriat. Bukan komunitas bilingual khusus.

Apakah kalimat itu salah? Tidak. Apakah itu pilihan paling efektif untuk audiens tersebut? Belum tentu.

Yang perlu dipertanyakan bukan apakah kalimat itu bagus secara estetika, tapi apakah orang yang berdiri di depan poster itu langsung merasa "ini untuk saya" atau justru merasa sedikit asing.

Bahasa bukan hanya soal apa yang kamu sampaikan, tapi juga soal seberapa cepat dan seberapa dalam pesan itu bisa diterima.

Cara Praktis Menilai Relevansi Bahasa

Kalau kamu sedang membangun produk atau mengelola bisnis membership, ada pertanyaan sederhana yang bisa membantu setiap kali kamu ragu.

Pertama, siapa yang akan membaca ini? Apakah mereka lebih nyaman dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dalam konteks ini?

Kedua, apakah istilah atau kalimat ini sudah familiar di telinga pengguna saya, atau mereka perlu berpikir sejenak untuk memahaminya?

Ketiga, apakah saya menggunakan bahasa ini karena memang paling efektif untuk audiens saya, atau karena terasa lebih keren?

Kalau jawabannya menunjukkan bahwa pilihan bahasa yang ada memang paling efektif untuk konteks itu, lanjutkan. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi kalau jawabannya tidak jelas, atau pilihan itu lebih banyak didorong oleh kebiasaan dan kesan, itu layak untuk dievaluasi ulang.

Berbicara Seperti Penggunamu

Produk yang baik selalu terasa seperti bicara langsung dengan penggunanya, bukan membuat pengguna menyesuaikan diri dengan produk.

Ini berlaku untuk bahasa, tone, cara menyampaikan informasi, bahkan cara menulis notifikasi. Ketika pengguna membuka aplikasimu dan langsung merasa "oh, ini untuk aku", itu bukan kebetulan. Itu hasil dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten, termasuk pilihan bahasa.

Berbicara seperti penggunamu tidak berarti menghindari semua istilah asing. Itu berarti memilih kata-kata yang paling mudah diproses oleh otak pengguna tanpa hambatan yang tidak perlu. Kadang itu bahasa Indonesia. Kadang itu istilah Inggris yang sudah umum. Kadang itu campuran keduanya yang terasa natural.

Dan ketika pengguna merasa produkmu berbicara dalam bahasa mereka, kepercayaan datang lebih mudah. Kepercayaan yang datang lebih mudah artinya konversi yang lebih baik, retention yang lebih kuat, dan bisnis yang lebih sehat.

Memverr dan Pilihan Bahasa

Di Memverr, kami membangun platform manajemen member untuk bisnis di Indonesia. Dari awal, kami memutuskan untuk berbicara dengan cara yang paling mudah dipahami oleh pengguna kami.

Bukan yang paling keren. Bukan yang paling terlihat global. Tapi yang paling jelas dan paling relevan.

Karena pada akhirnya, pengguna tidak datang ke platform kami untuk terkesan. Mereka datang karena ingin mengelola member dengan lebih rapi, memastikan pembayaran berjalan konsisten, dan mengurangi pekerjaan administratif yang menguras waktu.

Kalau kamu mengelola bisnis membership dan ingin melihat langsung bagaimana Memverr bekerja, kunjungi platform manajemen member kami di https://www.memverr.com/platform-manajemen-member

Dan kalau ingin melihat struktur harganya terlebih dahulu sebelum memutuskan, kamu bisa langsung cek di https://www.memverr.com/harga

Penutup

Bahasa Inggris bukan musuh. Bahasa Inggris adalah alat yang sangat berguna ketika digunakan di tempat yang tepat.

Tapi begitu juga sebaliknya: mengindonesiakan semua kata bukan tujuannya. "Smartphone" tidak perlu jadi "gawai". "Login" tidak perlu jadi "masuk akun". Selama penggunanya sudah paham, tidak ada yang perlu diubah.

Yang perlu selalu diperiksa adalah satu hal: apakah cara kamu berkomunikasi membuat pengguna merasa lebih dekat dengan produkmu, atau justru lebih jauh?

Kalau jawabannya lebih dekat, kamu sudah di jalur yang benar.

Kalau jawabannya lebih jauh, mungkin ada satu keputusan kecil yang perlu ditinjau ulang. Dan keputusan kecil itu, kalau dilakukan dengan tepat, bisa berdampak lebih besar dari yang kamu kira.

Bagikan artikel ini

Mulai Kelola Bisnis Anda dengan Memverr

Coba gratis 30 hari, tidak perlu kartu kredit

Ada yang bisa kami bantu?